Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan program pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan gizi masyarakat, khususnya anak sekolah, melalui penyediaan makanan secara rutin dan dalam skala besar. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dapur-dapur MBG, termasuk yang berada di Kecamatan Pauh, dituntut untuk beroperasi setiap hari dengan intensitas tinggi, mulai dari proses memasak dalam jumlah besar hingga penggunaan peralatan dapur seperti kompor gas, tungku, dan peralatan listrik secara terus-menerus.
Tingginya intensitas penggunaan peralatan tersebut menimbulkan risiko bahaya yang cukup signifikan, terutama risiko kebakaran dan kebocoran gas LPG. Penggunaan kompor gas dalam jumlah banyak dengan waktu pengoperasian yang lama dapat meningkatkan potensi kebocoran pada sambungan regulator atau selang gas. Selain itu, ruang dapur yang padat aktivitas sering membuat petugas kurang menyadari adanya kebocoran gas atau awal mula kebakaran karena fokus pada pekerjaan memasak. Di sisi lain, minimnya sistem peringatan dini (early warning system) pada dapur skala menengah seperti dapur MBG menyebabkan deteksi bahaya masih mengandalkan kewaspadaan manual petugas, yang tentunya memiliki keterbatasan.
Apabila terjadi insiden kebakaran atau kebocoran gas, dampak yang ditimbulkan dapat sangat besar, baik berupa kerugian materi seperti peralatan dapur, bahan baku, dan bangunan, terganggunya distribusi makanan bergizi kepada penerima manfaat, maupun risiko cedera hingga korban jiwa bagi petugas dapur. Mengingat dapur MBG melibatkan banyak orang dan beroperasi secara rutin dalam jangka panjang, maka diperlukan sebuah sistem yang mampu mendeteksi secara dini adanya potensi kebakaran melalui sensor asap atau api, serta kebocoran gas melalui sensor gas, dan memberikan peringatan secepat mungkin kepada petugas. Dengan adanya sistem deteksi ini, potensi bahaya dapat diketahui sejak awal sebelum berkembang menjadi insiden yang lebih besar, sehingga keselamatan petugas, kelangsungan operasional dapur, dan keberlanjutan program MBG di Kecamatan Pauh dapat lebih terjamin.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk merancang dan mengimplementasikan Sistem Deteksi Kebakaran dan Kebocoran Gas di Dapur MBG pada daerah Kecamatan Pauh sebagai upaya preventif dalam meningkatkan keselamatan kerja dan mendukung kelancaran operasional dapur penyedia Makan Bergizi Gratis.
3. Alat dan Bahan[Kembali]
3. 1 Alat
3.1.1 Multimeter
Gambar 1. Digital Multimeter
Multimeter adalah alat ukur elektronik yang digunakan untuk mengukur berbagai parameter listrik, seperti tegangan, arus, dan resistansi. Alat ini sangat umum digunakan dalam bidang kelistrikan dan elektronika untuk keperluan pengujian, perawatan, dan analisis rangkaian. Multimeter tersedia dalam dua bentuk utama, yaitu multimeter analog dan multimeter digital, yang masing-masing memiliki karakteristik dan keunggulan tersendiri.
Fungsi utama multimeter adalah untuk mengukur tegangan listrik, baik tegangan searah (DC) maupun tegangan bolak-balik (AC). Rentang pengukuran tegangan yang dimiliki multimeter umumnya dimulai dari satuan milivolt hingga ratusan volt. Selain itu, multimeter juga digunakan untuk mengukur arus listrik yang mengalir dalam suatu rangkaian, baik arus DC maupun AC, dengan rentang pengukuran mulai dari mikroampere hingga ampere. Pada pengukuran arus, multimeter harus dihubungkan secara seri dengan rangkaian agar arus dapat mengalir melalui alat ukur tersebut. Multimeter juga berfungsi untuk mengukur resistansi atau hambatan suatu komponen atau rangkaian listrik dengan satuan ohm, yang rentang nilainya dapat mencapai megaohm.
Selain fungsi dasar tersebut, beberapa multimeter modern dilengkapi dengan fitur pengukuran tambahan, seperti pengukuran kapasitansi, frekuensi, dan suhu, serta fasilitas untuk melakukan uji dioda dan uji kontinuitas. Fitur-fitur ini menjadikan multimeter sebagai alat ukur yang multifungsi dan sangat membantu dalam proses analisis serta perbaikan rangkaian elektronika.
Berdasarkan jenisnya, multimeter analog menggunakan jarum penunjuk yang bergerak pada skala untuk menunjukkan hasil pengukuran. Keunggulan multimeter analog terletak pada kemampuannya dalam menampilkan perubahan sinyal secara cepat dan tidak memerlukan sumber daya baterai saat mengukur tegangan dan arus. Namun, tingkat akurasi multimeter analog relatif lebih rendah dan pembacaan hasilnya kurang praktis dibandingkan dengan multimeter digital. Sebaliknya, multimeter digital menampilkan hasil pengukuran dalam bentuk angka pada layar LCD, sehingga lebih mudah dibaca dan memiliki tingkat akurasi yang lebih tinggi. Multimeter digital umumnya membutuhkan baterai untuk semua jenis pengukuran, namun menawarkan kemudahan penggunaan serta fitur tambahan seperti auto-ranging, yang secara otomatis memilih rentang pengukuran yang sesuai sehingga mengurangi risiko kesalahan dan kerusakan alat.
Dalam penggunaannya, multimeter diawali dengan pemasangan kabel probe, di mana probe hitam dihubungkan ke terminal COM dan probe merah ke terminal sesuai jenis pengukuran yang dilakukan. Untuk mengukur tegangan, multimeter disambungkan secara paralel dengan rangkaian atau sumber tegangan, sedangkan untuk mengukur arus, multimeter harus disambungkan secara seri dengan rangkaian. Pada pengukuran resistansi, rangkaian harus dalam kondisi tidak terhubung dengan sumber listrik agar hasil pengukuran akurat dan aman. Dengan prosedur penggunaan yang benar, multimeter dapat menjadi alat ukur yang sangat andal dalam mendukung pekerjaan di bidang kelistrikan dan elektronika.
Gambar 2. Solder
Solder adalah alat yang digunakan untuk menggabungkan komponen elektronik atau logam dengan cara memanaskan dan melelehkan bahan solder sehingga mampu merekatkan bagian-bagian yang akan disambung. Dalam proses penyolderan, solder terdiri dari beberapa komponen utama, yaitu besi solder, timah solder, dan flux. Besi solder atau soldering iron merupakan alat yang dipanaskan menggunakan energi listrik dan berfungsi untuk melelehkan timah solder. Ujung besi solder, yang dikenal sebagai mata solder, terbuat dari logam tahan panas dan dirancang agar mampu menghantarkan panas secara efisien ke area penyolderan.
Adaptor adalah perangkat elektronik yang berfungsi untuk mengubah tegangan listrik AC (arus bolak-balik) dari sumber listrik utama menjadi tegangan DC (arus searah) dengan nilai yang lebih rendah dan sesuai dengan kebutuhan perangkat elektronik. Di dalam adaptor terdapat beberapa komponen utama, seperti transformator yang berfungsi menurunkan tegangan, rangkaian penyearah untuk mengubah tegangan AC menjadi DC, serta kapasitor dan regulator yang berperan dalam menghaluskan dan menstabilkan tegangan keluaran. Ketika adaptor dihubungkan ke stop kontak dan disambungkan ke perangkat, adaptor akan menyuplai daya listrik yang aman dan stabil sehingga perangkat dapat beroperasi atau melakukan proses pengisian daya dengan baik.
Breadboard adalah perangkat yang digunakan untuk merancang dan merakit rangkaian elektronik sementara atau prototipe tanpa memerlukan proses penyolderan. Alat ini berupa papan berlubang yang di dalamnya terdapat jalur koneksi listrik tersembunyi, sehingga memungkinkan komponen elektronik seperti resistor, kapasitor, transistor, dan IC dipasang serta dihubungkan dengan mudah. Secara umum, breadboard terdiri dari dua bagian utama, yaitu bagian tengah yang berfungsi sebagai tempat pemasangan komponen, serta bagian samping yang biasanya digunakan sebagai jalur distribusi catu daya positif dan negatif.
Penggunaan breadboard sangat membantu pada tahap pengembangan dan pengujian rangkaian karena pengguna dapat dengan cepat melakukan perubahan, perbaikan, atau penyesuaian desain rangkaian tanpa harus merusak komponen. Hal ini menjadikan breadboard sebagai alat yang praktis dan efisien untuk eksperimen serta pembelajaran elektronika. Breadboard tersedia dalam berbagai ukuran, sehingga memberikan fleksibilitas bagi pengguna dalam membuat prototipe rangkaian elektronik untuk berbagai jenis dan skala proyek.
3.1.5 Jumper
Gambar 5. Kabel Jumper
Keluarga mikrokontroler STM32F103xx merupakan bagian dari kategori performance line dengan kepadatan menengah yang menggunakan inti Arm® Cortex®-M3 32-bit RISC berkinerja tinggi dan beroperasi pada frekuensi hingga 72 MHz. Mikrokontroler ini dilengkapi dengan memori tertanam berkecepatan tinggi, yaitu Flash memory hingga 128 KB dan SRAM hingga 20 KB, serta berbagai peripheral dan antarmuka I/O yang terhubung melalui dua bus APB (Advanced Peripheral Bus). Selain itu, perangkat ini memiliki dua modul ADC 12-bit, tiga timer umum 16-bit serta satu timer PWM, dan berbagai antarmuka komunikasi seperti I2C, SPI, USART, USB, dan CAN yang mendukung kebutuhan sistem embedded yang kompleks.
Mikrokontroler STM32F103xx bekerja dengan rentang tegangan suplai 2,0 hingga 3,6 V dan tersedia dalam rentang suhu operasi –40 hingga +85 °C, serta versi dengan rentang suhu diperluas hingga –40 hingga +105 °C. Untuk mendukung efisiensi daya, mikrokontroler ini juga menyediakan berbagai mode hemat energi yang memungkinkan perancangan sistem dengan konsumsi daya rendah. Perangkat ini tersedia dalam beberapa pilihan kemasan mulai dari 36 pin hingga 100 pin, di mana setiap varian dapat memiliki konfigurasi peripheral yang berbeda sesuai kebutuhan aplikasi.
Dengan fitur-fitur tersebut, keluarga mikrokontroler STM32F103xx sangat cocok digunakan dalam berbagai bidang aplikasi, seperti penggerak motor (motor drive), sistem kontrol industri, peralatan medis dan perangkat portabel, perangkat periferal komputer dan game, sistem GPS, PLC (Programmable Logic Controller), inverter, printer, scanner, sistem alarm, video interkom, serta sistem HVAC (Heating, Ventilation, and Air Conditioning).
spesifikasi :
Gambar 8. Spesifikasi STM32
3.2.2 Flame Sensor
Sensor api adalah fototransistor NPN silicon berkecepatan tinggi dalam kemasan standar 5mm. Prinsip kerjanya memanfaatkan sensitivitas komponen terhadap radiasi inframerah lapisan epoksi hitam pada badan sensor menjadi filter alami yang hanya meloloskan cahaya inframerah (panjang gelombang puncak 940 nm, rentang 760–1100 nm).
Ketika api atau sumber cahaya inframerah terdeteksi, radiasi yang diterima menyebabkan arus kolektor meningkat secara proporsional. Semakin kuat irradiance yang diterima, semakin besar arus kolektor (Ic). Tegangan kerja maksimum kolektor-emiter (VCEO) adalah 30V dengan arus kolektor maksimum 20 mA, dan disipasi daya maksimum 75 mW pada suhu ruang 25°C. Sensor ini beroperasi pada rentang suhu −25°C hingga +85°C.
Spesifikasi
MQ-2 adalah sensor semikonduktor berbahan SnO₂ (tin dioxide) yang konduktivitasnya rendah di udara bersih, namun meningkat seiring naiknya konsentrasi gas yang mudah terbakar di sekitarnya. Prinsip ini memungkinkan konversi perubahan konduktivitas menjadi sinyal tegangan output melalui rangkaian pembagi tegangan sederhana.
Sensor ini sensitif terhadap propana, asap, metana, alkohol, dan gas mudah terbakar lainnya pada rentang deteksi 300–10.000 ppm. Memerlukan dua tegangan masukan: tegangan pemanas (VH = 5V ±0,1V) untuk menstabilkan suhu kerja elemen sensing, dan tegangan sirkuit (VC ≤ 24V DC). Output tegangan pada 2.000 ppm propana adalah 2,5V–4,0V dengan resistansi beban RL yang dapat disesuaikan.
Waktu pemanasan awal (preheat) minimal 48 jam diperlukan agar sensor mencapai kestabilan. Sensor ini memiliki umur pakai hingga 10 tahun dalam kondisi normal.
Catatan penting: Sensor MQ-2 wajib dihindarkan dari paparan uap silikon organik, gas korosif tinggi (H₂S, SOₓ, Cl₂, HCl), garam alkali, halogen, dan air karena semua zat tersebut dapat menurunkan sensitivitas secara permanen atau irreversible.
Spesifikasi :
3.2.4. NTC Sensor
NTC (Negative Temperature Coefficient) adalah termistor semikonduktor yang resistansinya menurun secara eksponensial seiring kenaikan suhu. Sensor Danfoss NTC 100K memiliki resistansi nominal 100.000 Ω (100 kΩ) pada suhu 25°C dan konstanta B (0/100) sebesar 4.036 K.
Hubungan resistansi–suhu mengikuti persamaan Steinhart-Hart atau pendekatan β-equation:
R(T) = R₀ · e^(B · (1/T − 1/T₀))
di mana T adalah suhu dalam Kelvin dan R₀ adalah resistansi pada suhu referensi T₀ (25°C = 298,15 K). Sebagai contoh praktis: pada 0°C resistansinya 334.000 Ω, pada 50°C turun menjadi 35.270 Ω, dan pada 100°C menjadi hanya 6.369 Ω.
Sensor ini dikemas dalam tabung tembaga C105 berdiameter 8 mm, berperingkat IP68 (kedap air penuh), dengan rentang suhu operasi −40°C hingga +200°C. Toleransi akurasi pengukuran adalah ±1°C untuk suhu −40°C hingga 90°C, ±2,5°C hingga 150°C, dan ±3,5°C hingga 200°C.
Spesifikasi
3.2.5 Resistor
Resistor adalah komponen Elektronika Pasif yang memiliki nilai resistansi atau hambatan tertentu yang berfungsi untuk membatasi dan mengatur arus listrik dalam suatu rangkaian Elektronika (V=I R).
Jenis Resistor yang digunakan disini adalah Fixed Resistor, dimana merupakan resistor dengan nilai tetap terdiri dari film tipis karbon yang diendapkan subtrat isolator kemudian dipotong berbentuk spiral. Keuntungan jenis fixed resistor ini dapat menghasilkan resistor dengan toleransi yang lebih rendah.
Cara menghitung nilai resistor:
4. Dasar Teori[Kembali]
Sistem Deteksi Kebakaran dan Kebocoran Gas LPG di Dapur MBG Pauh dirancang sebagai solusi teknologi terapan untuk meningkatkan keselamatan pada area dapur yang memiliki risiko tinggi terhadap kebocoran gas dan kebakaran. Lingkungan dapur umumnya memiliki aktivitas penggunaan LPG yang intens, sehingga potensi terjadinya kebocoran gas, kenaikan suhu berlebih, maupun munculnya api dapat terjadi sewaktu-waktu. Kondisi ini menjadi lebih berbahaya apabila tidak terdeteksi secara dini, karena gas yang terakumulasi dalam ruangan dapat memicu kebakaran atau ledakan.
Melalui pendekatan early warning system, sistem ini mengintegrasikan beberapa sensor, yaitu sensor gas MQ-2 untuk mendeteksi kebocoran gas LPG, sensor suhu NTC untuk memantau perubahan suhu abnormal, serta flame sensor untuk mendeteksi keberadaan api secara langsung. Seluruh data dari sensor tersebut diolah menggunakan mikrokontroler STM32 Blue Pill sebagai pusat kendali utama untuk menentukan kondisi lingkungan secara real-time.
Ketika terdeteksi kondisi tidak normal, sistem akan memberikan peringatan secara otomatis melalui buzzer sebagai alarm suara, serta LED indikator sebagai penanda visual kondisi aman, waspada, atau bahaya. Selain itu, informasi hasil pembacaan sensor juga ditampilkan pada LCD 16x2 agar pengguna dapat memantau kondisi sistem dengan mudah dan cepat.
Dengan adanya sistem ini, diharapkan proses deteksi dini kebocoran gas dan kebakaran dapat dilakukan secara otomatis, sehingga mampu meningkatkan keselamatan pengguna di dapur MBG Pauh serta meminimalisir risiko kecelakaan akibat LPG.
4.1 STM32 Blue Pill STM32F103C8T6
MQ-2 adalah sensor semikonduktor berbahan SnO₂ (tin dioxide) yang konduktivitasnya rendah di udara bersih, namun meningkat seiring naiknya konsentrasi gas yang mudah terbakar di sekitarnya. Prinsip ini memungkinkan konversi perubahan konduktivitas menjadi sinyal tegangan output melalui rangkaian pembagi tegangan sederhana.
Sensor ini sensitif terhadap propana, asap, metana, alkohol, dan gas mudah terbakar lainnya pada rentang deteksi 300–10.000 ppm. Memerlukan dua tegangan masukan: tegangan pemanas (VH = 5V ±0,1V) untuk menstabilkan suhu kerja elemen sensing, dan tegangan sirkuit (VC ≤ 24V DC). Output tegangan pada 2.000 ppm propana adalah 2,5V–4,0V dengan resistansi beban RL yang dapat disesuaikan.
Waktu pemanasan awal (preheat) minimal 48 jam diperlukan agar sensor mencapai kestabilan. Sensor ini memiliki umur pakai hingga 10 tahun dalam kondisi normal.
Catatan penting: Sensor MQ-2 wajib dihindarkan dari paparan uap silikon organik, gas korosif tinggi (H₂S, SOₓ, Cl₂, HCl), garam alkali, halogen, dan air karena semua zat tersebut dapat menurunkan sensitivitas secara permanen atau irreversible.
Hubungan logaritmik terbalik antara konsentrasi gas dan resistansi sensor pada sensor MQ-2 berpengaruh langsung terhadap mekanisme deteksi yang diterapkan dalam program mikrokontroler. Semakin tinggi konsentrasi gas LPG di udara, maka nilai resistansi sensor (Rs) akan semakin menurun, sehingga rasio Rs/Ro juga ikut turun. Sebaliknya, ketika kondisi lingkungan berada pada keadaan normal atau udara bersih (fresh air), nilai Rs berada pada kondisi maksimum, sehingga rasio Rs/Ro berada pada nilai tertinggi dan menjadi acuan kondisi aman pada sistem.
Dalam sistem ini, hubungan matematis antara resistansi sensor (Rs), hambatan beban (RL), dan tegangan keluaran analog (Vout) dapat dinyatakan dengan persamaan berikut:
Rs = ((Vcc − Vout) / Vout) × RL
Sedangkan tegangan keluaran analog (Vout) yang dibaca oleh ADC 12-bit STM32F103C8T6 dihitung berdasarkan nilai digital ADC dengan tegangan referensi 3,3 V, menggunakan persamaan:
Vout = (Nilai_ADC × 3,3) / 4095
Dalam perancangan sistem deteksi kebakaran dan kebocoran gas LPG di dapur MBG Pauh, pendekatan ini digunakan untuk menentukan nilai ambang (threshold) sebagai batas kondisi berbahaya. Ketika nilai pembacaan sensor MQ-2 meningkat hingga melewati batas yang telah ditentukan, sistem akan mengklasifikasikan kondisi sebagai indikasi kebocoran gas.
Sebagai contoh, ketika tegangan keluaran sensor mendekati atau melebihi batas kritis tertentu (misalnya setara dengan Nilai_ADC ≥ 2457 atau sekitar 2,0–3,0 V tergantung kalibrasi sistem), mikrokontroler STM32 secara otomatis mengidentifikasi adanya potensi kebocoran gas berbahaya. Kondisi ini kemudian memicu sistem untuk mengaktifkan buzzer sebagai alarm peringatan, LED indikator sebagai penanda status bahaya, serta menampilkan informasi peringatan pada LCD 16x2.
Dengan demikian, sistem mampu melakukan deteksi dan respon secara otomatis berdasarkan perubahan nilai analog dari sensor gas MQ-2 secara real-time.
Gambar 14. Grafik Perbandingan Nilai RS/RO
Ketika nilai rasio Rs/Ro pada sensor MQ-2 mengalami penurunan hingga mencapai nilai tertentu, hal ini menunjukkan adanya peningkatan konsentrasi gas LPG di lingkungan. Berdasarkan karakteristik kurva sensitivitas pada datasheet MQ-2, kondisi tersebut dapat diinterpretasikan sebagai indikasi awal adanya kebocoran gas dengan konsentrasi pada kisaran tertentu sesuai hasil kalibrasi sistem.
Nilai pembacaan ini masih dapat dikategorikan sebagai tahap peringatan dini (early warning), di mana sistem belum memasuki kondisi kritis namun sudah menunjukkan adanya potensi bahaya. Berdasarkan standar keselamatan industri seperti OSHA (Occupational Safety and Health Administration), batas Lower Explosive Limit (LEL) untuk LPG (butana/propana) berada pada kisaran sekitar 1,8%–2% volume udara, yang setara kurang lebih 18.000–20.000 ppm tergantung jenis gasnya.
Pada sistem ini, alarm dirancang untuk aktif pada konsentrasi yang jauh lebih rendah dari batas LEL tersebut, yaitu pada kisaran 0,15%–0,2% volume udara, sehingga sistem bekerja sebagai early warning system yang memberikan peringatan lebih awal sebelum kondisi mencapai tingkat berbahaya.
Ketika kondisi tersebut terdeteksi oleh STM32 Blue Pill, sistem akan secara otomatis mengaktifkan buzzer sebagai alarm peringatan, menyalakan LED indikator sebagai penanda status bahaya, serta menampilkan informasi kondisi pada LCD 16x2. Selain itu, jika sistem dilengkapi aktuator tambahan seperti kipas exhaust, maka perangkat tersebut dapat diaktifkan untuk membantu mengurangi konsentrasi gas di udara dengan mengalirkan udara keluar dari area dapur, sehingga risiko akumulasi gas dan potensi ledakan dapat diminimalkan secara aktif.
NTC (Negative Temperature Coefficient) adalah termistor semikonduktor yang resistansinya menurun secara eksponensial seiring kenaikan suhu. Sensor Danfoss NTC 100K memiliki resistansi nominal 100.000 Ω (100 kΩ) pada suhu 25°C dan konstanta B (0/100) sebesar 4.036 K.
Hubungan resistansi–suhu mengikuti persamaan Steinhart-Hart atau pendekatan β-equation:
R(T) = R₀ · e^(B · (1/T − 1/T₀))
di mana T adalah suhu dalam Kelvin dan R₀ adalah resistansi pada suhu referensi T₀ (25°C = 298,15 K). Sebagai contoh praktis: pada 0°C resistansinya 334.000 Ω, pada 50°C turun menjadi 35.270 Ω, dan pada 100°C menjadi hanya 6.369 Ω.
Sensor ini dikemas dalam tabung tembaga C105 berdiameter 8 mm, berperingkat IP68 (kedap air penuh), dengan rentang suhu operasi −40°C hingga +200°C. Toleransi akurasi pengukuran adalah ±1°C untuk suhu −40°C hingga 90°C, ±2,5°C hingga 150°C, dan ±3,5°C hingga 200°C.
Grafik Respon Sensor :
LCD 16x2 I2C digunakan sebagai media tampilan untuk menampilkan informasi hasil pembacaan sensor serta status kondisi sistem secara real-time. LCD ini mampu menampilkan dua baris karakter sehingga cocok untuk menampilkan data sederhana namun informatif, seperti nilai sensor gas MQ-2, suhu dari sensor NTC, serta status deteksi api dari flame sensor. Selain itu, LCD juga digunakan untuk menampilkan kondisi sistem secara keseluruhan, seperti kondisi aman, waspada, atau bahaya, sehingga pengguna dapat dengan mudah memahami keadaan sistem tanpa harus melihat proses pembacaan sensor secara langsung.
Penggunaan komunikasi I2C (Inter-Integrated Circuit) pada LCD bertujuan untuk menghemat penggunaan pin pada mikrokontroler STM32 Blue Pill, sehingga sistem menjadi lebih efisien dan sederhana dalam perancangan hardware.
LED digunakan sebagai indikator visual untuk menunjukkan kondisi sistem secara sederhana dan cepat. Pada sistem ini hanya digunakan satu LED berwarna merah sebagai indikator utama kondisi bahaya.
LED merah akan menyala ketika sistem mendeteksi kondisi tidak normal, seperti kebocoran gas LPG dari sensor MQ-2, kenaikan suhu abnormal dari sensor NTC, atau terdeteksinya api oleh flame sensor. Ketika salah satu atau kombinasi kondisi tersebut terjadi dan melewati ambang batas yang telah ditentukan, sistem akan mengaktifkan LED merah sebagai tanda peringatan.
Selain LED, sistem juga dilengkapi dengan buzzer sebagai alarm suara serta tampilan informasi pada LCD 16x2 untuk memberikan peringatan tambahan kepada pengguna. Penggunaan satu LED merah ini bertujuan untuk menyederhanakan indikator visual namun tetap efektif dalam menunjukkan kondisi darurat pada sistem.
5. Percobaan [Kembali]